The Sunk Cost Fallacy
kenapa kita terus melakukan hal yang merugikan hanya karena sudah terlanjur basah
Pernahkah kita duduk di dalam bioskop, menonton film yang jalan ceritanya berantakan, tapi kita tetap memaksakan diri menonton sampai layar menggelap? Atau mungkin, teman-teman punya sepasang sepatu mahal di lemari. Sepatu itu membuat kaki lecet parah, tapi tetap disimpan dan sesekali dipaksa pakai karena, "Sayang banget, belinya mahal." Mari kita naikkan skalanya sedikit. Di tahun 1960-an, pemerintah Inggris dan Prancis bekerja sama merancang pesawat komersial supersonik bernama Concorde. Proyek ini sejak awal sudah menunjukkan tanda-tanda gagal. Biayanya membengkak gila-gilaan dan secara bisnis sama sekali tidak masuk akal. Logika manusia normal pasti akan menyuruh mereka berhenti. Tapi tahukah teman-teman apa yang mereka lakukan? Mereka terus menyuntikkan dana jutaan dolar hingga akhirnya proyek itu runtuh dengan sendirinya.
Kisah pesawat Concorde itu begitu ikonik sampai para ahli sering menyebut fenomena ini sebagai The Concorde Fallacy. Tapi di kehidupan sehari-hari, kita lebih mengenalnya dengan sebutan sunk cost fallacy. Intinya sederhana: kita terus melakukan sesuatu yang jelas-jelas merugikan, hanya karena kita sudah terlanjur berinvestasi di dalamnya. Investasi ini bisa berupa uang, waktu, tenaga, hingga emosi. Kita semua pasti pernah mengalaminya. Berada di jurusan kuliah yang ternyata tidak cocok, tapi pantang mundur karena sudah semester lima. Bertahan dalam hubungan asmara yang toxic berdarah-darah, hanya karena merasa sudah pacaran lima tahun dan sudah kenal keluarga. Semakin banyak yang sudah kita korbankan, semakin sulit bagi kita untuk melepaskan. Kita merasa terikat, terperangkap dalam keputusan masa lalu yang sebenarnya sudah basi.
Namun, mari kita renungkan sejenak. Jika dipikir pakai akal sehat, bertahan dalam kerugian itu sangat tidak rasional. Ketika perahu kita bocor, hal yang paling masuk akal adalah mencari sekoci, bukan malah terus menguras air sambil berharap perahunya tiba-tiba utuh kembali. Lalu, mengapa kita begitu keras kepala? Apakah kita memang terprogram untuk menjadi makhluk yang tidak logis? Kenapa otak kita, yang mampu mengirim manusia ke bulan dan menemukan vaksin, justru sangat kesulitan untuk sekadar berkata, "Oke, saya salah, mari kita berhenti"? Ada sebuah mesin purba di dalam kepala kita yang ternyata diam-diam meretas kemampuan berpikir rasional kita. Sesuatu yang membuat rasa rugi terasa seperti ancaman mematikan.
Inilah momen di mana sains masuk dan menelanjangi sifat dasar kita. Psikolog pemenang Nobel, Daniel Kahneman dan rekannya Amos Tversky, menemukan sebuah konsep bernama loss aversion atau penghindaran kerugian. Dalam bahasa evolusi, otak kita didesain untuk merespons rasa "kehilangan" dua kali lebih kuat dibandingkan rasa "mendapatkan". Saat kita menyadari investasi kita (uang, waktu, cinta) berpotensi hangus, bagian otak yang memproses rasa takut bernama amygdala akan menyala seperti alarm kebakaran. Rasa sakit akibat kehilangan ini begitu nyata secara neurologis. Akibatnya, bagian otak depan kita, prefrontal cortex, yang bertugas berpikir logis, langsung kalah pamor. Kita akhirnya tidak lagi membuat keputusan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Tanpa sadar, kita membuat keputusan semata-mata untuk menunda rasa sakit akibat mengakui kekalahan di hari ini. Kita menggali lubang yang sama, berharap menemukan emas, padahal kita hanya semakin dalam mengubur diri sendiri.
Memahami cara kerja otak ini sebenarnya adalah sebuah kabar baik yang sangat membebaskan. Setidaknya, sekarang kita tahu bahwa kita tidak bodoh; kita hanya sedang menjadi manusia seutuhnya. Namun, menjadi manusia bukan berarti kita harus terus menjadi budak biologi kita sendiri. Ingatlah satu hukum mutlak ini: biaya yang sudah keluar, waktu yang sudah berlalu, dan air mata yang sudah jatuh adalah masa lalu. Mereka tidak akan pernah bisa ditarik kembali. Keputusan yang kita buat hari ini seharusnya murni didasarkan pada apa yang terbaik untuk esok hari, bukan untuk menebus kesalahan kemarin. Jadi, mari kita biasakan diri untuk melatih otot kerelaan kita. Keluar dari bioskop di tengah film yang buruk itu bukan kelemahan. Membatalkan proyek yang gagal, atau meninggalkan hubungan yang menghancurkan mental kita, adalah bentuk keberanian tertinggi. Terkadang, kemenangan terbesar kita dalam hidup tidak datang dari seberapa kuat kita bertahan, melainkan dari seberapa cerdas kita tahu kapan harus berhenti.